Kamis, 20 Juni 2013

Tuhan Personal dan Tuhan Impersonal



    Konsep Tuhan dalam Pikiran Manusia

Tuhan adalah masalah pokok dalam setiap agama dan filsafat. Agama tanpa kepercayaan kepada Tuhan tidak disebut agama. Begitu juga filsafat, pembahasan filsafat yang pertama kali muncul adalah masalah metafisika, yaitu dari mana asal usul alam dan apa zat yang menjadi dasar alam. Sebagian filsuf Yunani klasik berpendapat bahwa alam berasal dari salah satu unsur, antara lain Thales, Anaximenes, Anaximandros. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa penyusun alam ini berasal dari beberapa gabungan unsur, antara lain Empedokles.
Plato dan Aristoteles kemudian mengemukakan pendapat yang sudah sampai memikirkan sesuatu realitas yang di luar alam; yaitu zat yang berbeda dengan alam, bersifat immateri, abadi, satu dan sempurna. Plato menemakannya ide Kebaikan dan Aristoteles menyebutnya dengan Sebab Utama atau Penggerak Yang Tidak Bergerak. Kendati para filosof  telah mampu mengetahui realitas itu belum merupakan suatu konsep yang utuh sebagai mana agama. Dalam pemikiran filsafat, realitas tertinggi itu merupakan ide manusia dan kemestian logis dari pemikiran. Namun, realitas itu belum disebut dengan Tuhan yang personal, tetapi Tuhan yang impersonal. Untuk mengetahui masalah tersebut, maka kedua hal tersebut akan dijelaskan pada alenia berikutnya. 
a.    Tuhan Personal
Tuhan yang personal terdapat dalam paham agama-agama semitik, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam. Konsep tuhan dalam agama ini jelas identitas diri-Nya (setiap agama memiliki nama Tuhan) dan aktif serta memiliki berbagai sifat kesempurnaan. Yang jelas Tuhan personal bukan hasil ide atau pikiran manusia, tetapi didapati dari informasi wahyu yang dibawa oleh para utusan Tuhan. Personifikasi Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, yaitu Tuhan adalah pencipta alam semesta dan sekaligus pemeliharaannya. Tuhan juga dalam Kitab Suci disebut sebagai Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Tahu, dll yang mana menunjukkan kesempurnaan.
Pada prinsipnya, Tuhan yang personal yaitu:
1)   Tuhan personal menekankan pada identitas Tuhan sebagai zat yang sempurna dan perlu disembah sebagai wujud pengabdian makhluk kepada penciptanya.
2)   Tuhan personal barasal dari petunjuk Wahyu, oleh karena itu tuhan dalam agama adalah zat Pencipta, dan sekaligus pemelihara alam.
3)   Tuhan personal mengakui bahwa Tuhan adalah Zat yang sama sekali berbeda dengan makluk.
4)   Tuhan personal menonjolkan perbedaan antara makhluk dengan Tuhan sebagai pencipta.[1]
Namun demikian, Tuhan personal tidak luput dari kritikan dan kelemahan. Komentar datang dari para pemikir modern. Menurut para pemikir modern, Tuhan personal cocok untuk masyarakat primitif yang menganggap bahwa mereka saja yang berhak memiliki Tuhan seperti yang mereka gambarkan sendiri. Tuhan yang demikian sudah ketinggalan zaman sebab Tuhan yang dibutuhkan sekarang adalah Tuhan yang universal dan tidak milik golongan tertentu.
Kierkegaard, tokoh eksistensialis abad ke-19, memandang Tuhan personal dari perspektif yang berbeda. Dia beranggapan bahwa personifikasi Tuhan sesuai dengan kepentingan setiap individu. Karena itu, dia menolak Tuhan yang supra-personal dan Tuhan yang objektif. Tuhan, demikian Kierkegaard, adalah subjektif bukan wujud yang objektif. Tuhan sesuai dengan apa yang digambarkan oleh kepentingan manusia.[2]
b.    Tuhan Impersonal
Tuhan dalam prespektif impersonal berbeda dengan Tuhan personal, disini tidak mementingkan apakah Tuhan itu pencipta atau tidak. Yang penting dalam ajaran filsafat Tuhan itu adalah awal dan akhir segala sesuatu. Aktivitas Tuhan di alam dunia, dalam pandangan Tuhan yang impersonal, tidak diperlukan karena akan mengurangi kesempurnaan-Nya. Jadi disini Tuhan bersifat abstrak dan masih berupa ide-ide.
Pada prinsipnya Tuhan yang impersonal yaitu:
1)   Tuhan impersonal tidak mementingkan identitas Tuhan, tetapi yang terpenting adalah ide tentang Tuhan merupakan konsekuensi logis dari keberadaan wujud. Karena itu, Tuhan impersonal tidak disembah dan dipuja.
2)   Tuhan impersonal berasal dari kesimpulan pemikiran manusia.
3)   Tuhan yang impersonal perbedaan antara Tuhan dan makhluk hilang sama sekali, sehingga bisa dikatakan panteisme.
Konsekuensi dari Tuhan impersonal ialah seseorang penganut agama tidak akan mendapatkan efek atau manfaat psikologis dari keberadaan Tuhan tersebut karena dia tidak dapat berhubungan dengan-Nya. Tuhan impersonal terutama dalam panteisme konsep dosa dan pahala menjadi kabur.
Untuk menjembatani perbedaan antara Tuhan personal dan Tuhan impersonal, sebagian penganut teisme berpendapat bahwa Tuhan adalah supra-personal. Artinya, Tuhan memang memiliki sifat-sifat yang sedemikian rupa, tetapi sifat tersebut tidak sama dengan sifat manusia. Tuhan memiliki sifat yang maha sempurna, Dialah person yang utuh, sedangkan person manusia tidak utuh dan hakiki.


[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama Wisata pemikiran dan Kepercayaan Manusia.
[2] Ibid, 202.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Translate