Senin, 01 April 2013

Filsafat Muhammad Iqbal


Filsafat  Muhammad Iqbal

A.      Biografi
Muhammad Iqbal yang dikenal sebagai penyair (filsuf, ahli hukum, pemikir politik, dan reformis muslim adalah seorang tokoh dominan umat islam abad ke-20) lahir pada bulan Dzulhijjah 1289 H, atau 22 Februari 1873 di Sialkot. Nenek moyangnya adalah orang-orang Brahmana Kasymir dan telah memeluk agama islam 3abad sebelum kelahiran Iqbal.
Jenjang pendidikannya dimulai dengan memasuki Sekolah Dasar dan Menengah di Sialkot dan giat belajar agama dari seorang ulama bernama Mir Hasan ia pun mulai semangat menghirup semangat keislamannya. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya ke Governement College di Lahore disana ia bertemu dengan Thomas Arnold dan ia mulai mengenal filsafat barat. Pada 1905 Iqbal berangkat ke Eropa untuk memperdalam filsafat dan hukum, filsafat dipelajari di Cambridge University London dan kuliah hukum diikutinya di Lincoln’s Inn London. Kemudian diteruskannya lagi di Universitas Munchen Jerman Barat, di sinilah ia mendapat gelar Doctor Philosopy(ph.D.) atas disertasinya yang berjudul The Development of Metaphysics In Persia.
Pada tahun 1908 ia mencurahkan tenaganya sebagai guru besar dalam matakuliah filsafat dan kesusastraan Ingris di Governemet College kemudian pindah menjadi advokat dan perhatiannya kepada masalah politik mulai bergejolak. Pada 1922 ia pun mendapat gelar Sir dari pemerintahan Inggris karena keahliannya dalam filsafat dan seni.
Pada tahun 1931 dan 1932 ia berkunjung ke Inggris untuk menghadiri konferensi meja bundar di London,dalam kesempatan perjalanan ia bertemu dengan filosof Perancis Henri Bergson. Pada 1932 ia mengetuai sidang tahunan Liga Muslim, dimana ia melontarkan ide Negara Islam di India.
Saat-saat Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 isterinya meninggal dunia,musibah ini membekas sangat dalam dan membawa kesedihan yang berlarut-larut. Akhirnya berbagai penyakit menimpa Iqbal hingga fisiknya melemah dan pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia merasa ajalnya telah dekat. Ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi atau 63 tahun dalam kalender Hijri,Iqbal berpulang ke Rahmatullah. Jenazahnya diantar oleh ribuan pelayat ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

B.       Filsafatnya
1.      Ego atau Khudi
Konsep tentang hakekat ego atau individualitas merupakan konsep dasar dari filsafat Iqbal, dan menjadi alas penompang keseluruhan struktur pemikirannya. Menurut Iqbal, khudi arti harfiahnya ialah ego atau self atau individulaitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata, adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan. Merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Artinya ialah menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus tak berbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kencendrungan-kencendrungan yang bercerai-berai dari organisme yang hidup kearah yang suatu tujuan konstruktif.
Di dalam bukunya The Reconctruction of Religious Thought in Islam, realitas Tertinggi (Ultimate-Reality) sebagai suatu ego, dan bahwa hanya dari Ego-Tertinggi itulah ego-ego bermula. Dunia dengan segala isinya merupakan “penjelmaan diri” dari Aku Yang Akbar, atau Tuhan, namun Iqbal menolak pandangan panteisme dan pseduo-mistisme.
Menurut CA. Qodir, Iqbal mengambil pandangan tentang “ego” ini terutama dari kaum idealis seperti Hegel dan Fichte, tetapi menggabungkannya dengan paham perubahan. Ia berpendapat bahwa ada semacam tangga nada (hierarkhi) ke-aku-an yang muncul secara perlahan-lahan di alam semesta ini hingga mencapai tingkat manusia, di mana ke-ego-an berada pada titik titik tertingginya. Allah SWT dipandang sebagai ego, tetapi Ia adalah Ego absolut. Sementara alam semesta adalah lembah ego-ego yang lebih rendah yang biasanya dipandang sebagai materi[1]
Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya berupa aktivitas kehendak. Hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan dan bergerak menuju satu arah (Ego absolut). Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia berkehendak bebas dan berkreatif akan tetapi hidup manusia ditentukan oleh aktivitas khudinya. Aktivitas khudi yang selalu mengarah kepada kesempurnaan suatu waktu akan mencapai perkembangannya yang tertinggi, yakni kesempurnaan di mana pada waktu itu dia akan merangkum samudera ketuhanan(khuda).
 2.      Ketuhanan
Pemahaman Iqbal tentang Ketuhanan mengalami tiga tahap perkembangan, sesuai dengan pengalaman yang dilaluinya dari tahap pencarian sampai ke tahap kematangan. Ketiga tahap itu adalah :
Pada masa pertama (dari tahun 1901 sampai kira-kira tahun 1908).  Iqbal meyakini Tuhan sebagai keindahan Abadi,yang ada tanpa tergantung dan mendahului segala sesuatu,bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Dia menyatakan dirinya di langit dan di bumi,di matahari dan di bulan,disemua tempat dan keadaan. Pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai mistikus-panteistik,hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang berkembang di wilayah Persia,lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibn Arabi. Keindahan Abadi adalah sumber,esensi, dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan,dan individu adalah seperti halnya setetes air atau seperti matahari dengan lilin. Pemikiran Iqbal yang demikian terpengaruh oleh Plotinus yang mengembangkan pemikiran Plato yang menganggap bahwa Tuhan sebagai Keindahan Abadi.
Pada masa kedua (1908-1920). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang dijadikan sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara Keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan disamping ke-Esa-an Tuhan. Karena itu ,Tuhan itu menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan.
Pada masa ketiga (1920-1938). Jika masa kedua dapat dianggap sebagai masa pertumbuhan,maka pada masa ketiga ini dapat dianggap sebagai masa kedewasaan dan merupakan pengembangan menuju kematangan konsepsi tentang Ketuhanan.Tuhan adalah” hakikat sebagai suatu keseluruhan”, dan hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual, dalam arti suatu individu dan suatu ego. Untuk menjadi sempurna memerlukan suatu keadaan di mana tak ada bagian organisme yang terlepas dapat hidup secara terpisah. Dari bagian ini jelas bahwa individu yang sempurna merupakan unsur paling esensial dalam konsepsi al-Qur’an tentang Tuhan.[2]
3.      Materi dan Kausalitas
Menurut Iqbal, kodrat realitas yang sesungguhnya adalah rohaniah dan semua yang sekuler sebenarnya adalah suci dalam akar-akar perwujudannya. Adapun materi adalah suatu kelompok ego-ego berderajat rendah, dan dari sana muncul ego yang berderajat lebih tinggi, apabila penggabungan dan interaksi mereka mencapai suatu derajat koordinasi tertentu.
Iqbal selalu menekankan bahwa kodrat kehidupan ego selalu berproses, yang berarti juga selalu ada perkembangan ego, yang berjuang untuk meningkatkan dirinya ke arah individualitas yang lebih kompleks dan lebih sempurna.
Oleh karena itu dalam mencapai kesempurnaanya, sistem sebab-akibat merupakan suatu alat yang perlu sekali bagi ego, dan bukanlah merupakan suatu gambaran yang sebenarnya tentang sifat realitas. Dibedakan dua cara kegiatan kreatif Tuhan pada kita, khalq dan amr. Khalq adalah penciptaan (creation) dan amr adalah pimpinan (direction).[3]
4.      Moral
Filsafat Iqbal adalah filsafat yang meletakkan kepercayaan kepada manusia yang dilihatnya mempunyai kemungkinan yang tak terbatas, mempunyai kemampuan yang mengubah dunia dan dirinya sendiri, serta mempunyai kemampuan untuk ikut memperindah dunia. Hal itu karena manusia merupakan wujud penampakan diri dari Aku Yang Akbar.
Sudah menjadi tanggung jawab manusia untuk mengambil bagian dengan cita-cita yang lebih tinggi dari alam sekitarnya dan turut menentukan nasibnya sendiri. Manusia dalam kehidupannya bertalian dengan alam, dan dengan pertalian ini manusia dituntut untuk dapat mengeksplorasi kekayaan alam serta mendayagunakannya untuk kemanfaatan kehidupan manusia.
Dalam hal ini, lebih singkatnya manusia yang ideal adalah yang mampu hidup mandiri, kreatif serta inovatif dalam menjalani kehidupan karena pada dasarnya ego manusia selalu mencari atau mendekati kepada ego tertinggi (Tuhan) yang mana ego tertinggi adalah ego yang sempurna. . Ada dua cara untuk memahami manusia, menurut Iqbal. Pertama,cara intelektual, dan kedua cara vital. Cara intelektual memahami dunia sebagai suatu sistem tegar tentang sebab-akibat, cara vital menerima mutlak adanya keharusan yang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan,yakni kehidupan di pandang sebagai suatu keseluruhan. Cara vital ini dinamakan ‘iman’, iman bukanlah sekedar percaya secara pasif akan , masalah tertentu, melainkan merupakan keyakinan yang hidup, yang didapatkan dari pengalaman yang jarang terjadi. Hanya pribadi-pribadi yang kuat saja yang sanggup naik ke tingkat pengalaman ini.
5.      Insan kamil
Iqbal menafsirkan insan kamil atau manusia sempurna, setiap manusia potensial adalah suatu mikrokosmos, dan bahwa insan yang telah sempurna kerohaniannya menjadi cermin dari sifat-sifat Tuhan, sehingga sebagai orang suci dia menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam konsepnya tentang kemungkinan keabadian ego, iqbal mengetengahkan tentang adanya kebangkitan ego yang dihubungkannya dengan kilasan-kilasan realitas yang baru, dan bersiap-siap menyesuaikan diri dengan aspek-aspek ini. Peristiwa ini tentunya akan merusak keseimbangan  dan membuat ego-ego menjadi melebur. Akan tetapi ego haruslah tetap berusaha mengalami kebangkitan, kebangkitan ini bukanlah bersifat lahiriah. Kebangkitan merupakan kesempurnaan proses kehidupan didalam ego.
Manusia dengan segala kelamahannya, demikian Iqbal masih lebih tinggi daripada alam, karena manusia membawa suatu amanat besar yang mana makhluk-makhluk ciptan Allah yang lain tak sanggup menerimanya.
Adapun tentang kehidupan, menurut Iqbal adalah proses yang terus maju ke depan dan esensinya ialah penciptaan terus-menerus dari gairah dan cita-cita. Sejalan dengan makna kemerdekaan,Iqbal tidak menyetujui adanya perbudakan dapat merusak watak manusia,merancukan sifat manusia dan  menjebloskan ke dalam derajat yang hina- dina. Iqbal berpendapat bahwa tujuan seluruh kehidupan adalah membentuk insan yang mulia dan setiap pribadi adalah haruslah berusaha mencapainya.
Hal-hal yang dapat memperkuat pribadi menurut Iqbal , ialah :
1.      ‘Isyq-o-muhabbat,yakni cinta kasih.
2.      Semangat atau keberanian,termasuk bekerja kreatif dan orisinal,artinya asli dari hasil kreasinya sendiri dan mandiri.
3.      Toleransi, rasa tenggang menenggang.
4.      Faqr, yang artinya sikap tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran-ganjaran yang akan diberikan di dunia, sebab bercita-citakan yang lebih agung.

Hal-hal yang melemahkan pribadi adalah : takut, suka minta-minta(su’al),perbudakan dan sombong. Maka hidup yang baik ialah hidup yang penuh usaha perjuangan, bukan suatu cara hidup yang menarik diri dan memencilkan diri,bukan yang malas dan yang menganggap remeh kehidupan.  Cinta atau isyq sebagai suatu daya aktif yang memungkinkan individu memiliki daya tarik penggerak yang kuat,manakala ia dihadapkan kepada maksud-maksud yang bermanfaat.
Adapun yang dianggap dapat melemahkan ego adalah: takut,sombong,dan suka meminta-minta(su’al). su’al merupakan tema Iqbal yang menjadi antithesis dari Isqy,juga menjadi antithesis dari faqr. Karena, su’al menurut Iqbal adalah segala sesuatu yang diperoleh bukan dengan usaha sendiri. Yang harus dikembangkan pula sikap toleransi, yaitu kesadaran akan perlunya menghargai orang lain.












[1] Rumaidi Hartawa, Humanisme Religius: Pengantar pada Filsafat Iqbal, 14 April 1999
[2] Hasyimsyah Nasution,  Filsafat Islam. (Jakarta:Gaya Media Pratama,1999). 190-191.
[3] Hasyimsyah Nasution,  Filsafat Islam. (Jakarta:Gaya Media Pratama,1999), 200.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Translate